- Home >
- my first "cerpen"
Posted by : Unknown
Jumat, 28 Agustus 2015
Kipas Angin, Ruangan
Ini, dan Dia
Angin , ada angin yang berhembus di sini. Angin yang menggores pori –
pori. Angin yang membasuh adrenalin. Angin yang menjilati angan – angan. Angin
yang menyetubuhi cinta mereka. Angin yang entah darimana asalnya. Wush ! aku
tahu ! Asalnya dari kipas angin tua itu.
Sejak kapan ya dia di situ? Rasanya sudah sangat lama, mungkin selama sejak air
mata mereka mulai mengalir di ubin – ubin kusam ruangan ini.
Mereka akhirnya menyesali sesuatu
dan menangisinya satu – satu. Mereka minta ditemukan, bukan oleh orang lain.
Tapi mereka hanya ingin ditemukan oleh mereka yang dulu di masa depan.
****
Matamu
menyiratkan tanya. Padahal hanya ada aku dan kipas angin nan berisik di ruangan
kosong ini. Tapi kau masih duduk di atas lantai dingin itu. Meratapi haluan
yang telah merenggut mentarimu. Entah ! Dia yang hilang atau kita yang hilang?
Entah ! Aku merasa…. Akulah yang
paling salah. Juga kau salah. Tapi tak bisa kupungkiri dia juga salah.
“
Rama, apa gerangan matamu terbersit Tanya?”
Kau masih sepi. Tanyaku hanya
menguap bersama uap hampa ini. Kipas angin tua itu (yang menghembuskan angin ketakutan) semakin ramai, entah dia
mengambil semua jatah bicara dan kebahagiaan kita.
“Rama?”. Hening. Lalu matamu mulai
bicara dengan tetes – tetes bening yang melaju melintasi kesunyian. Suara itu
hanya hatiku yang mendengarkan. Kau sebut semuanya tanpa sisa, hingga kau sebut
juga dukaku.
“Rama ?” Hening lagi. Hingga saat
detik mulai berlalu akhirnya kau menyahut.
“Takkah kau ingat tangisnya yang
menyesakkan ruangan sepi kita dulu? Atau saat ia tertawa dan menghangatkan
ruangan dingin kita?.Tidakkah kau….”
“Aku tak pernah sedetikpun melupakan
satu detikpun bersamanya. Menyusuinya, memandikannya, mengganti popoknya, dan
mendengar celotehnya.”
“Lalu Shinta? Apakah sedihmu
sepertiku? Sedih karna dia telah direnggut dan meninggalkan jalan kita?”
Kau bodoh Rama! Sangat bodoh. Apa
perlu mataku yang bicara? Atau perlu darahku yang menyampaikan lukaku dengan
berjuta tetesnya ? Tak cukupkah nestapa
yang kita jadikan makanan pokok? Mungkin
hatimu mulai buta dengan suara hatiku. Kau bukan lagi Ramaku yang dulu. Kau
berubah. Mungkin dinding – dinding ini yang menghisap semuanya. SEMUANYA. Kau
bukan untuk aku lagi namun jadi milik kegelapan ruangan ini.
“Maksudmu? Rahimku yang
membesarkannya. Lalu eranganku yang mengenalkan dunia padanya. Tubuhku yang
pertama kali dia sentuh di dunia ini. Mungkinkah jika aku baik – baik saja saat
dia sedang di dunia yang berbeda dengan kita, meninggalkan kita dengan jeritan
ketakutan ini?”
Untuk beberapa waktu kau mengaku
kalah. Di sini memang suram, hitam, kelam dan Hening. Ya,juga hening. Tembok
yang mengelilingi kita kembali melakukan ruinitasnya. Menjerit dan mengalirkan
cairan merah. Entah itu apa. Bahkan kipas angin tua yang jadi barang paling
menyenangkan di sini turut ambil bagian dalam membuat keheningan dan kesuraman.
Dia MATI!
****
“Selamat, anda Ayah dari seorang bayi jelita.
Matanya teduh, tangisnya berani, dan geraknya lincah.” Kata si bidan saat
menemuimu di sela do’a panjangmu. Tapi kau hanya diam. Si Bidan bingung dengan
tingkahmu, kebanyakan Ayah akan langsung berlali untuk melihat bayinya malah, hampir semua Ayah menemani istrinya
selama berlangsungnya persalinan. Kau hanya bilang “Aku percaya denganmu, sayangnya aku tak
percaya kehadiranku di sini akan berguna.”
“Apakah
aku sudah terlihat sebagai Ayah?”.
“Kau
tampak seperti Kaisar yang menemui penerusnya.” Jawabku sembari mengusap
pipinya. Sekadar ingin menjelaskanmu tentang keindahannya.
“Namanya
Kirana. Nama Kirana artinya adalah sinarnya
cantik dan molek.” Katamu setelah
mengamati dengan jeli disetiap bagian bagian tubuhnya.
“Terimakasih, Shinta. Aku mencintaimu seperti aku mencintai
Kirana”.
Ada yang berbeda setelah kehadirannya. Ruangan kosong kita,
akhirnya terbit mentari di pagi hari. Berhembus angin di siang hari. Muncul
pelangi di sore hari. Dan dihangatkan rembulan di malam hari. Kau semakin
semangat untuk bekerja dan tak ingin terlambat untuk pulang. Hari – hari penuh
kebahagiaan, dan karna kau adalah kebahagiaanku maka aku turut bahagia dengan
itu. Diapun semakin cantik di tiap harinya. Hanya tersenyum setiap hari, dan
menangis saat ingin di minum susu dan popoknya penuh.
Tak terasa tahun – tahun indah kita berjalan semakin lama.
Dia sudah bisa berlari sekarang. Tapi ada yang aneh, dia tak seperti anak
biasanya. Tak peduli jika di panggil dan tak menyahut jia ditanya. Kata yang
bisa dia ucapkan hanyalah “Unda, Aiyah” yang berarti Bunda dan Ayah. Hingga kau
mulai khawatir dengannya, dan aku khawatir karna bisikan – bisikan dari
tetangga.
Hari itu kita sepakat untuk membawanya ke dokter anak.
“Pakaian yang indah” pujimu sesaat sebelum mobil yang kita kendarai berangkat.
Mungkin kau riskan dengan dandanan gadis kecil kita yang terlalu indah untuk
mendengar kemungkinan buruk. Kau sudah tahu…
****
“Di mana kita akan
menyekolahkannya? Usianya bulan depan cukup 6 tahun. Apakah tak terlalu lambat
untuk mengenalkannya dengan bangku sekolah?.” Tanyamu saat kau sedang menyisir
rambut bergelombangnya.
“Sekolah adalah tempat yang tidak aman bagi Kirana-ku. Banyak
orang jahat di sana.” Jawabmu tanpa menoleh kepadaku.
“Jadi ingin tetap mengurungnya di sini dan kau jadikan
boneka?”
“Maksudmu?” Kau mulai tertarik dengan pembicaraan ini.
“Ya, tahun lalu seharusnya dia sudah bermain di playgroup , dan bulan ini kita sudah
harus membawanya ke tempat yang kau bilang ‘banyak orang jahat’nya itu. Karna
kalau tidak dia tidak punya masa depan!” Urat – uratku mulai menegang.
“Masa depannya adalah bersama kita. Kita akan merawatnya,
kalau kau tidak mau biar aku saja”
“Apa?. Kulitmu tidak akan sekencang dulu lagi, langkahmu juga
tidak akan sekokoh dulu lagi, stamina akan cepat habis, dank au tidak bisa
menjamin ‘penyakit tua’ akan menghampirimu.”
Kau diam, kau dekap dia, kau kecup keningnya. Dia sadar
dengan suasana ini, dia menggenggam tanganmu dan tersenyum. Aku sadar betapa
indahnya dia.
“SLB, siswanya semua adalah anak sepertinya.” Kataku memecah
keheningan. Kau merespon yang kukatakan dengan wajah pasrah. Dan dia, walaupun
sudah memakai hearing aid tapi dia
masih belum terlalu tangkap dengan suara.
“Kita ke sekolah itu besok.”
****
Dia sedang menyisir rambutku, sambil mengobrol denganmu.
Entah apa yang kalian bicarakan, akupun tak peduli namun raut wajah kalian lama
– kelamaan menegang. Tiba – tiba dia merangkulku. Aku heran dia tampak sedih,
apakah karna kata ‘sekolah’ yang kau sebutkan yang membuatnya sedih? Tapi kau
masih mengatakannya.
Dari dulu kau selalu memulai suasana pembicaraan ini. Saat
kau membahas baju yang kugunakan, mainan yang kumainkan, siaran yang ku tonton,
caraku duduk, caraku untuk menjalani kehidupan. Kau selalu membahas tentang
kata ‘normal’. Aneh!
Esoknya, kita berangkat ke tempat yang kau sebut ‘sekolah’
mengendarai mobil warna silver miliknya. Kau dan dia duduk di depan dan aku
lebih memilih untuk duduk di jok belakang. Ya, karna memang itu kebiasaanku.
Awalnya sangat hening. Hingga kau memulai berbicara denganku. Kau berkata bahwa
aku akan punya banyak teman dan mainan. Ada lebih banyak lagi yang menyayangiku
seperti kau dan dia lakukan. Benda apalagi itu yang diebut ‘teman’, dan bagiku
kalian sudah cukup untuk memberikan kasih sayang. Aku tak butuh orang lain,
benda lain, dan tempat lain selain yang kau dan dia miliki.
****
Saat itu adalah pertama kalinya kubiarkan dia bebas dari
penglihatanku. Kau Nampak tenang saja dengan itu. Hingga hari – harinya
dipenuhi dengan banyak aktifitas. Kau selalu mengajaknya keluar dan bermain.
Berjalan – jalan di taman kota, mengunjungi department store, perawatan di
salon, menonton konser band kesukaanmu, mendownload drama terbaru yang mulai
dia gemari. Aku sudah tidak pernah menyisir rambutnya, merangkul tubuhnya,
mengajaknya bermain puzzle (dulunya adalah permainan kesukaannya).
“Shinta, semenjak Kirana bersekolah nampaknya kau lebih akrab
dengan dia.” Kataku setelah kau pulang dari mengantarnya ke sekolah.
“Maksudmu?, memang wajar jika ibu dekat dengan anaknya. Apa
ada masalah dengan itu?”
“Bukan apa – apa.” Kututup pembicaraan ini dengan diam.
Hingga hari – hari mulai berlalu seperti hari ini.
****
Hari
– hari mereka lalui seperti itu, sampai mereka tak sadar ada yang sedang
bermetamorfosis dan ada juga yang mulai layu. Hingga hari itu tepat 2.190 hari
Kirana duduk di bangku sekolah. Saat itu peran tokoh – tokohnya bukan lagi Si Ayah yang sangat sayang dengan
anak “berkebutuhan khusus”nya, atau Ibu yang berusaha membuat anak
“berkebutuhan khususnya” menjadi anak normal. Tapi tokoh – tokoh di sini berlari
menjauh dari dunia asalnya.
Si
Ibu sekarang sudah puas dengan normalnya hidup anaknya, walaupun ada beberapa
hal yang dia buat normal. Namun, entah anaknya sudah “dijadikan” normal oleh
masyarakat.
Si
Ayah mulai mati hatinya, mungkin karna kehilangan wadah kasih sayang, hingga
kasihnya tumpah – tumpah. Sayang.
Si
Anak juga ambil bagian dalam mengubah arah jarum jam kehidupan sebuah keluarga
kecil. Dia bukan lagi anak yang tak tahu cara untuk normal. Di sekolah dia jadi
idola, masyarakat di sekitarnyapun sangat bahagia dengan kehadirannya, bukan
karna merasa iba tapi memang anak itu sangat indah.
Malam
itu, malam sebelum hari kelulusan Si Anak, malam sebelum sejarah baru pahat,
malam sebelum Tuhan menunjukkan kehebatannya membuat takdir, malam sebelum bumi
memotret sebuah kejadian besar. MALAM SEBELUM SESUATU.
Semuanya
sudah terlelap, berusaha untuk menabung tenaga untuk hari bersejarah besok.
Hingga saat malam sudah cukup larut Tuhan mulai menebar kehebatan-Nya.
Malam itu seperti malam
yang sewajarnya. Angin memebekukan alam bawah sadar, gelap membutakan
kesenangan, dan entah malam itu benar – benar adalah “malam yang
sebenarnya”. Ada yang mengetuk pintu
rumah keluarga itu. Sang Ayah terbangun. Penasaran. Ia bergegas mengintip dari
celah pintu coklatnya. Tak ada siapaun. Ia lalu merasa itu hanyalah halusinasi.
Saat berjalan kembali ke kamarnya,Si Ibu terbangun.
“Ada senandung yang
menyeramkan dari samping kamar.” Ucapnya dengan wajah pucat pasi. Si Ayah
bingung dan bertanya maksud dari menyeramkan.
“Seperti senandung memuja
sesuatu dalam bahasa Ibrani.” Ya,memang dulu ia banyak tahu tentang bahasa
Ibrani. Dulu saat…
Lalu, dengan ragu mereka
menuju ke satu – satunya ruangan yang bersebelahan dengan kamar tidur mereka.
Saat menempelkan kuping di permukaan pintu, suara itu semakin jelas dan
nyaring. Mereka masih tak percaya dan menghindar dari seribu satu prasangka.
Buruk pastinya.
Saat pintu dibuka dengan
perlahan – lahan Nampak wanita dengan gaun merah bertudung hitam sedang
bersenandung sambil menggerakkan bagian tubuh atasnya ke kanan dank e kiri.
Wanita itu berbalik. Si Ayah dan Ibu tak percaya dengan yang dilihatnya. Mereka
bercakap dengan mata.
“Apa yang kau
lakukan, sayang?” Tanya Si Ibu
“Memujanya.” Jawabnya
sambil menunjuk sebuah patung kecil bermata tunggal.
“Apa itu?” Tanya Si Ayah
penasaran
“Aku bertemu dengannya
di sekolah. Dia mengajarkanku semua kebahagiaan. Semuanya telah kusarahkan
padanya.”jawab Si Anak dengan lirih.
“Maksudmu?”
“Termasuk Ayah dan
Bunda. Telah kuberikan padanya. Selamat bersantai di ruang putih yang gelap.”
Katanya sambil membuat suara dari jari tengah dan jempolnya. Tiba – tiba…..
****
Rama
terbangun dengan bercucur keringat dingin. Ketakutan. Bulu remang
“Mimpi yang buruk.” Gumamnya dalam keheningan malam. Setelah
merasa lebih tenang diapun memejamkan matanya kembali berusaha untuk terpejam.
Lalu sebelum ia kembali tenggelam di alam bawah sadar, ada sebuah suara. Tok-tok-tok. Suara ketukan pintu.
****