Popular Post

Popular Posts

Recent post

Akhir Sebuah Puisi

Inilah akhir puisinya. Titik.
Karna malam semakin diseret gelap.
Dan ngantuk semakin diseret lelap.
Juga kau semakin diseret jangkrik bisu.

Akhir Sebuah Puisi

Kipas Angin, Ruangan Ini, dan Dia
             Angin , ada angin yang berhembus di sini. Angin yang menggores pori – pori. Angin yang membasuh adrenalin. Angin yang menjilati angan – angan. Angin yang menyetubuhi cinta mereka. Angin yang entah darimana asalnya. Wush ! aku tahu ! Asalnya dari kipas angin  tua itu. Sejak kapan ya dia di situ? Rasanya sudah sangat lama, mungkin selama sejak air mata mereka mulai mengalir di ubin – ubin kusam ruangan ini.
           Mereka akhirnya menyesali sesuatu dan menangisinya satu – satu. Mereka minta ditemukan, bukan oleh orang lain. Tapi mereka hanya ingin ditemukan oleh mereka yang dulu di masa depan.     
****
Matamu menyiratkan tanya. Padahal hanya ada aku dan kipas angin nan berisik di ruangan kosong ini. Tapi kau masih duduk di atas lantai dingin itu. Meratapi haluan yang telah merenggut mentarimu. Entah ! Dia yang hilang atau kita yang hilang? Entah ! Aku merasa….          Akulah yang paling salah. Juga kau salah. Tapi tak bisa kupungkiri dia juga salah.
“ Rama, apa gerangan matamu terbersit Tanya?”
            Kau masih sepi. Tanyaku hanya menguap bersama uap hampa ini. Kipas angin tua itu (yang menghembuskan angin ketakutan) semakin ramai, entah dia mengambil semua jatah bicara dan kebahagiaan kita.
            “Rama?”. Hening. Lalu matamu mulai bicara dengan tetes – tetes bening yang melaju melintasi kesunyian. Suara itu hanya hatiku yang mendengarkan. Kau sebut semuanya tanpa sisa, hingga kau sebut juga dukaku.
            “Rama ?” Hening lagi. Hingga saat detik mulai berlalu akhirnya kau menyahut.
            “Takkah kau ingat tangisnya yang menyesakkan ruangan sepi kita dulu? Atau saat ia tertawa dan menghangatkan ruangan dingin kita?.Tidakkah kau….”
            “Aku tak pernah sedetikpun melupakan satu detikpun bersamanya. Menyusuinya, memandikannya, mengganti popoknya, dan mendengar celotehnya.”
            “Lalu Shinta? Apakah sedihmu sepertiku? Sedih karna dia telah direnggut dan meninggalkan jalan kita?”
            Kau bodoh Rama! Sangat bodoh. Apa perlu mataku yang bicara? Atau perlu darahku yang menyampaikan lukaku dengan berjuta tetesnya ? Tak cukupkah nestapa yang kita jadikan makanan pokok?  Mungkin hatimu mulai buta dengan suara hatiku. Kau bukan lagi Ramaku yang dulu. Kau berubah. Mungkin dinding – dinding ini yang menghisap semuanya. SEMUANYA. Kau bukan untuk aku lagi namun jadi milik kegelapan ruangan ini.
            “Maksudmu? Rahimku yang membesarkannya. Lalu eranganku yang mengenalkan dunia padanya. Tubuhku yang pertama kali dia sentuh di dunia ini. Mungkinkah jika aku baik – baik saja saat dia sedang di dunia yang berbeda dengan kita, meninggalkan kita dengan jeritan ketakutan ini?”
            Untuk beberapa waktu kau mengaku kalah. Di sini memang suram, hitam, kelam dan Hening. Ya,juga hening. Tembok yang mengelilingi kita kembali melakukan ruinitasnya. Menjerit dan mengalirkan cairan merah. Entah itu apa. Bahkan kipas angin tua yang jadi barang paling menyenangkan di sini turut ambil bagian dalam membuat keheningan dan kesuraman. Dia MATI!
****
 “Selamat, anda Ayah dari seorang bayi jelita. Matanya teduh, tangisnya berani, dan geraknya lincah.” Kata si bidan saat menemuimu di sela do’a panjangmu. Tapi kau hanya diam. Si Bidan bingung dengan tingkahmu, kebanyakan Ayah akan langsung berlali untuk melihat bayinya  malah, hampir semua Ayah menemani istrinya selama berlangsungnya persalinan. Kau hanya bilang  “Aku percaya denganmu, sayangnya aku tak percaya kehadiranku di sini akan berguna.”
“Apakah aku sudah terlihat sebagai Ayah?”.
“Kau tampak seperti Kaisar yang menemui penerusnya.” Jawabku sembari mengusap pipinya. Sekadar ingin menjelaskanmu tentang keindahannya.
“Namanya Kirana. Nama Kirana artinya adalah sinarnya cantik dan molek.” Katamu setelah mengamati dengan jeli disetiap bagian bagian tubuhnya.
“Terimakasih, Shinta. Aku mencintaimu seperti aku mencintai Kirana”.
Ada yang berbeda setelah kehadirannya. Ruangan kosong kita, akhirnya terbit mentari di pagi hari. Berhembus angin di siang hari. Muncul pelangi di sore hari. Dan dihangatkan rembulan di malam hari. Kau semakin semangat untuk bekerja dan tak ingin terlambat untuk pulang. Hari – hari penuh kebahagiaan, dan karna kau adalah kebahagiaanku maka aku turut bahagia dengan itu. Diapun semakin cantik di tiap harinya. Hanya tersenyum setiap hari, dan menangis saat ingin di minum susu dan popoknya penuh.
Tak terasa tahun – tahun indah kita berjalan semakin lama. Dia sudah bisa berlari sekarang. Tapi ada yang aneh, dia tak seperti anak biasanya. Tak peduli jika di panggil dan tak menyahut jia ditanya. Kata yang bisa dia ucapkan hanyalah “Unda, Aiyah” yang berarti Bunda dan Ayah. Hingga kau mulai khawatir dengannya, dan aku khawatir karna bisikan – bisikan dari tetangga.
Hari itu kita sepakat untuk membawanya ke dokter anak. “Pakaian yang indah” pujimu sesaat sebelum mobil yang kita kendarai berangkat. Mungkin kau riskan dengan dandanan gadis kecil kita yang terlalu indah untuk mendengar kemungkinan buruk. Kau sudah tahu…
****
 “Di mana kita akan menyekolahkannya? Usianya bulan depan cukup 6 tahun. Apakah tak terlalu lambat untuk mengenalkannya dengan bangku sekolah?.” Tanyamu saat kau sedang menyisir rambut bergelombangnya.
“Sekolah adalah tempat yang tidak aman bagi Kirana-ku. Banyak orang jahat di sana.” Jawabmu tanpa menoleh kepadaku.
“Jadi ingin tetap mengurungnya di sini dan kau jadikan boneka?”
“Maksudmu?” Kau mulai tertarik dengan pembicaraan ini.
“Ya, tahun lalu seharusnya dia sudah bermain di playgroup , dan bulan ini kita sudah harus membawanya ke tempat yang kau bilang ‘banyak orang jahat’nya itu. Karna kalau tidak dia tidak punya masa depan!” Urat – uratku mulai menegang.
“Masa depannya adalah bersama kita. Kita akan merawatnya, kalau kau tidak mau biar aku saja”
“Apa?. Kulitmu tidak akan sekencang dulu lagi, langkahmu juga tidak akan sekokoh dulu lagi, stamina akan cepat habis, dank au tidak bisa menjamin ‘penyakit tua’ akan menghampirimu.”
Kau diam, kau dekap dia, kau kecup keningnya. Dia sadar dengan suasana ini, dia menggenggam tanganmu dan tersenyum. Aku sadar betapa indahnya dia.
“SLB, siswanya semua adalah anak sepertinya.” Kataku memecah keheningan. Kau merespon yang kukatakan dengan wajah pasrah. Dan dia, walaupun sudah memakai hearing aid tapi dia masih belum terlalu tangkap dengan suara.
“Kita ke sekolah itu besok.”
****
Dia sedang menyisir rambutku, sambil mengobrol denganmu. Entah apa yang kalian bicarakan, akupun tak peduli namun raut wajah kalian lama – kelamaan menegang. Tiba – tiba dia merangkulku. Aku heran dia tampak sedih, apakah karna kata ‘sekolah’ yang kau sebutkan yang membuatnya sedih? Tapi kau masih mengatakannya.
Dari dulu kau selalu memulai suasana pembicaraan ini. Saat kau membahas baju yang kugunakan, mainan yang kumainkan, siaran yang ku tonton, caraku duduk, caraku untuk menjalani kehidupan. Kau selalu membahas tentang kata ‘normal’. Aneh!
Esoknya, kita berangkat ke tempat yang kau sebut ‘sekolah’ mengendarai mobil warna silver miliknya. Kau dan dia duduk di depan dan aku lebih memilih untuk duduk di jok belakang. Ya, karna memang itu kebiasaanku. Awalnya sangat hening. Hingga kau memulai berbicara denganku. Kau berkata bahwa aku akan punya banyak teman dan mainan. Ada lebih banyak lagi yang menyayangiku seperti kau dan dia lakukan. Benda apalagi itu yang diebut ‘teman’, dan bagiku kalian sudah cukup untuk memberikan kasih sayang. Aku tak butuh orang lain, benda lain, dan tempat lain selain yang kau dan dia miliki.
****
Saat itu adalah pertama kalinya kubiarkan dia bebas dari penglihatanku. Kau Nampak tenang saja dengan itu. Hingga hari – harinya dipenuhi dengan banyak aktifitas. Kau selalu mengajaknya keluar dan bermain. Berjalan – jalan di taman kota, mengunjungi department store, perawatan di salon, menonton konser band kesukaanmu, mendownload drama terbaru yang mulai dia gemari. Aku sudah tidak pernah menyisir rambutnya, merangkul tubuhnya, mengajaknya bermain puzzle (dulunya adalah permainan kesukaannya).
“Shinta, semenjak Kirana bersekolah nampaknya kau lebih akrab dengan dia.” Kataku setelah kau pulang dari mengantarnya ke sekolah.
“Maksudmu?, memang wajar jika ibu dekat dengan anaknya. Apa ada masalah dengan itu?”
“Bukan apa – apa.” Kututup pembicaraan ini dengan diam.
Hingga hari – hari mulai berlalu seperti hari ini.
****
Hari – hari mereka lalui seperti itu, sampai mereka tak sadar ada yang sedang bermetamorfosis dan ada juga yang mulai layu. Hingga hari itu tepat 2.190 hari Kirana duduk di bangku sekolah. Saat itu peran tokoh – tokohnya  bukan lagi Si Ayah yang sangat sayang dengan anak “berkebutuhan khusus”nya, atau Ibu yang berusaha membuat anak “berkebutuhan khususnya” menjadi anak normal. Tapi tokoh – tokoh di sini berlari menjauh dari dunia asalnya.
Si Ibu sekarang sudah puas dengan normalnya hidup anaknya, walaupun ada beberapa hal yang dia buat normal. Namun, entah anaknya sudah “dijadikan” normal oleh masyarakat.
Si Ayah mulai mati hatinya, mungkin karna kehilangan wadah kasih sayang, hingga kasihnya tumpah – tumpah. Sayang.
Si Anak juga ambil bagian dalam mengubah arah jarum jam kehidupan sebuah keluarga kecil. Dia bukan lagi anak yang tak tahu cara untuk normal. Di sekolah dia jadi idola, masyarakat di sekitarnyapun sangat bahagia dengan kehadirannya, bukan karna merasa iba tapi memang anak itu sangat indah.
Malam itu, malam sebelum hari kelulusan Si Anak, malam sebelum sejarah baru pahat, malam sebelum Tuhan menunjukkan kehebatannya membuat takdir, malam sebelum bumi memotret sebuah kejadian besar. MALAM SEBELUM SESUATU.
Semuanya sudah terlelap, berusaha untuk menabung tenaga untuk hari bersejarah besok. Hingga saat malam sudah cukup larut Tuhan mulai menebar kehebatan-Nya.
Malam itu seperti malam yang sewajarnya. Angin memebekukan alam bawah sadar, gelap membutakan kesenangan, dan entah malam itu benar – benar adalah “malam yang sebenarnya”.  Ada yang mengetuk pintu rumah keluarga itu. Sang Ayah terbangun. Penasaran. Ia bergegas mengintip dari celah pintu coklatnya. Tak ada siapaun. Ia lalu merasa itu hanyalah halusinasi. Saat berjalan kembali ke kamarnya,Si Ibu terbangun.
“Ada senandung yang menyeramkan dari samping kamar.” Ucapnya dengan wajah pucat pasi. Si Ayah bingung dan bertanya maksud dari menyeramkan.
“Seperti senandung memuja sesuatu dalam bahasa Ibrani.” Ya,memang dulu ia banyak tahu tentang bahasa Ibrani. Dulu saat…
Lalu, dengan ragu mereka menuju ke satu – satunya ruangan yang bersebelahan dengan kamar tidur mereka. Saat menempelkan kuping di permukaan pintu, suara itu semakin jelas dan nyaring. Mereka masih tak percaya dan menghindar dari seribu satu prasangka. Buruk pastinya.
Saat pintu dibuka dengan perlahan – lahan Nampak wanita dengan gaun merah bertudung hitam sedang bersenandung sambil menggerakkan bagian tubuh atasnya ke kanan dank e kiri. Wanita itu berbalik. Si Ayah dan Ibu tak percaya dengan yang dilihatnya. Mereka bercakap dengan mata.
“Apa yang kau lakukan,  sayang?” Tanya Si Ibu
“Memujanya.” Jawabnya sambil menunjuk sebuah patung kecil bermata tunggal.
“Apa itu?” Tanya Si Ayah penasaran
“Aku bertemu dengannya di sekolah. Dia mengajarkanku semua kebahagiaan. Semuanya telah kusarahkan padanya.”jawab Si Anak dengan lirih.
“Maksudmu?”
“Termasuk Ayah dan Bunda. Telah kuberikan padanya. Selamat bersantai di ruang putih yang gelap.” Katanya sambil membuat suara dari jari tengah dan jempolnya. Tiba – tiba…..
****
Rama terbangun dengan bercucur keringat dingin. Ketakutan. Bulu remang
“Mimpi yang buruk.” Gumamnya dalam keheningan malam. Setelah merasa lebih tenang diapun memejamkan matanya kembali berusaha untuk terpejam. Lalu sebelum ia kembali tenggelam di alam bawah sadar, ada sebuah suara. Tok-tok-tok. Suara ketukan pintu.
****

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           


                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            

my first "cerpen"

ALAMKU
Untuk Yuyun Wulandari

Sesak membisiki ruang khayalku.
Meresap ke pori – pori mimpiku. Gaung.
Menatap tulang – tulang senyapku.
Mengapa alamku ?
Ragukah kau dengan keabadianku.
Hingga seribu satu anomaly kau tabur dengan garang. Gaung.

Aku begini dan begitu. Pijaki ini dan itu.
Memupuk apa dan dimana?. Tema bukanlah garis namun pagar. Aturan ( yang disebar Ayah dan Ibu ) masih tergenang di danau “ Tanya?”

Cari aku! Kumohon ! Lelehkan gembok pikiranku. Tak apa kaurasuki jantungku. Agar aku ada teman.
Teman untuk MERANA!!

Mushallah Fatimah Kalla, 28 Juli 2015. Pukul 21.20


Lanjutan Kesedihan
Senja ini aku dingin. Padahal senja kemarin aku hangat. Entah apa yang kurasa senja esok. Kepalaku tertahan . Oleh akar tanaman hias di pot – pot asramaku. Pikiranku hanyut terbawa angin. Oleh kipas angin kamarku. Lalu jemuranku semakin basah. Bukannya kering. Mungkin karna teplek sepatuku yang semakin kotor. Oleh becek genangan di depan kelasku. Seragam seninku semakin menguning. Kusam. Karna keringat. Daki. Debu.
Ternyata di dalam pot tanaman hias lain. Ada kepala – kepala lain yang ikut tertanam. Ada juga. kepala yang tergantung di tangkai pohon gerseng. Sekedar ikut tenggelam di empang ikan. Atau terlelap di gazebo dekat hutan sekolah. Tapi masih ada yang lain. Yang bersembunyi di buku catatan guru BK. Membaluti diri di bawah tanda tangan kepala sekolah. Bernyanyi di dalam kartu pelajar. Bahkan nongkrong di sofa Tata Usaha.
Sekarang masih senja. Aku berusaha. Membusakan suasana. Tak pelak hatiku yang berbuih.                  Plok plok plok plok. Satu persatu buihku pecah. Namun menggelembung lagi jutaan. Kemudian terdengar lagi Plok plok plok plok yang lain. Beradu. Membuat simfoni. Suramkah?.
Saat aku berjalan menutup senjaku. Kurasa ada yang mengelitik kakiku. Kusadar. Itu angan yang menebar diri di ubin selasar. Kucoba sapa mereka. Diam. “ Mulutmu lebih besar dari usaha “. Matanya yang berbicara. “ Apa yang kau lakukan untuk sekarang?”. Siapa yang mengijinkanmu bertanya?. Dengan mata semunya itu. Kutinggalkan mereka. Rasanya mereka telah sampai puncaknya. Depresi.
Ternyata senja telah berlayar ke pulau lain.
Dan ingin kututup.
Benar – benar. Semua.
Kesedihanku karenamu.


karna KAMU

Dalam bumi ada alam dalam alam ada malam dalam malam ada diam dalam diam ada semayam dalam semayam ada. Aku mungkin. Kelepak gila mulai menggelepar. Membuat dak-dik-duk di keriap senyap. Keras nyawaku karna hadirmu. Lentur marahku karna senyummu. Matamu bak awan mendung di terik hari. Lengkung tawamu semesta bagiku. Semakin dak-dik-duk. Tak henti dak-dik-duk.
Tak kunafikkan kilau walau silau. Karna memang sentuhan senyummu telah menjalari logikaku.
Guest House, 5 Agustus 2015 on 21.30
Untuk Rini yang diterpa “Hujan”


Sajak Sejak
Sajak ini kutulis. Di bawah rasa rinduku padamu. Dipadu rasa benciku yang membuncah. Berjalan. Terseok rasa gunda. Terlena bayangan abu. Lalu kakiku lagi kuat. Masih kutapaki. Seribu satu kesepian. Hingga. Aku sampai di gerbang ini. Gerbang yang memadukan. Mata dan rasaku padamu. Padahal kemarin aku menangis. Mencari penawar. Mencari sisiku yanglain. Mungkin tlah hilang. Entah. Mau kuapa jawaban yang tersedia. Tentang bagaimana. Aku dan kau.
Aku membecimu sejak ragaku rapuh. Aku membenci sejak mataku sendu. Aku membencimu sejak hatiku sepi. Aku membencimu sejak. Sejak. Tapi kau tak pernah ingin tahu. Aku mencintaimu sejak venus mengenal matahari. Sejak pluto mengenal es. Sejak asteroid mengenal Jupiter. Dan mars. Sejak malam bertemu bulan. Sejak Amor mengenal cinta. Sejak fajar mengenal timur. Aku mencintaimu sejak. Sejak.
Hingga aku naik ke tangga keheningan. Kakiku memang tatih tertiup sepi. Juga hatiku gentar terbisik sunyi. Untunglah. Hatiku masih merah. Nadiku masih dialiri. Darah. Walau merah. Aku dalam aku yang lain. Karenamu.
Aku sampai sekarang. Di ujung kesedihan. Dan tersadar.
Hidupku jeritan malam.
Senyummu fatamorgana.

Kau dan aku bayangan semu. 

sajak sejak

Puisi di 3 Juni 2015

 Malam dingin, aku merenung
Menanti jemari kembali bergairah untuk menyapa
Aku menyadari, ragaku sepi
Pernahkah kau merindukan mentari di malam hari?
Dan kau sadar bahwa mentari sedang menyinari bulan
Hanya angin malam yang menyetubuhi sepiku
Aku juga melihat bintang bintang
Menyinari sunyiku dengan redup


Malam dingin, aku menggumam
Menanti pagi terbit menyanyikanku sebuah lagu
Aku menyadari, waktuku semu
Pernahkah kau berharap malam tidak pernah datang?
Dan kau sadar bahwa kau hanya benci melhat bulan
Hanya rintik malam mendenting di aliran darahku
Aku juga melihat awan
Menaungiku dan menutupi bulan

Juga malamku semakin sepi dan semakin sunyi
Kawan, dengar

Aku juga masih merasa
Merasa

HILANG RASA…

puisi di 3 juni 2015

- Copyright © 230699 - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -